Sejarah Front Pembela Islam
FPI dalam Lintasan Sejarah
Front Pembela Islam
bukanlah organisasi kemarin sore. FPI sudah
berkiprah selama 18 tahun di negara ini. Seperti terpacak pada situs
resminya fpi.or.id, FPI dideklarasikan secara terbuka di Pondok
Pesantren Al-Umm, Tangerang, pada 25 Robi’uts Tsani 1419 Hijriyyah atau
tanggal 17 Agustus 1998.
FPI didirikan oleh sejumlah ulama,
haba’ib, serta aktivis muslim dipelopori seorang tokoh keturunan Hadrami
bernama Rizieq Shihab. Meskipun secara formal baru terbentuk pada 17
Agustus 1998, tetapi FPI sebelumnya telah merintis kemunculannya di
publik lewat pengajian, tabligh akbar, audiensi dengan unsur-unsur
pemerintahan, serta silaturahmi dengan tokoh-tokoh agama terkemuka.
Peran
sang habib dalam pembentukan FPI sangatlah sentral. Ia adalah tokoh
yang berhasil mengumpulkan 20 sesepuh pendiri FPI, di antaranya KH
Fathoni, KH Misbahul Anam, KH Cecep Bustomi, dan Habib Idrus
Jamalullail. Tokoh-tokoh ini dikenal sebagai mubalig yang keras sejak
jaman Orde Baru.
Habib Idrus Jamalullail dan K.H. Cecep Bustomi
pernah meringkuk di penjara Orde Baru pada dekade 1980-an karena
dianggap mengkritik kemaksiatan pemerintah Soeharto, seperti dikutip
riset SETARA Institute "Wajah Para 'Pembela' Islam."
Rizieq
Shihab adalah tokoh yang sangat berpengaruh di kalangan keturunan
Hadrami di Indonesia. Ayahnya, Sayyid Husein, adalah pendiri Gerakan
Pandu Arab Indonesia sekaligus seorang agitator perlawanan terhadap
Belanda yang terkemuka.
Ia sendiri awalnya dikenal sebagai
intelektual Islam yang sempat mengenyam pendidikan di LIPIA (Lembaga
Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab). Ia kemudian melanjutkan
pendidikan di jurusan Dirasah Islamiyah, Fakultas Tarbiyah, King Saud
University Arab Saudi.
Rizieq sempat pulang dan menjadi mubalig
di Jakarta pada 1992. Kemudian, ia mencoba melanjutkan studi di
Universitas Antar Bangsa Malaysia, namun tidak selesai karena
permasalahan biaya. Akhirnya Rizieq pulang ke Indonesia dan diangkat
menjadi Kepala Madrasah Aliyah Jami’at Khair pada 1994. Posisinya di
Jami’at Khair itu mulai menandai kiprahnya sebagai mubalig yang keras
mengkritik segala perilaku maksiat dan kemungkaran rezim Orde Baru.
Reputasi ini dipertahankan Rizieq Shihab sekaligus membantunya
mendirikan FPI.
Saat ini, Habib Rizieq Shihab menyandang gelar
sebagai Imam Besar FPI. Posisi tersebut disandangnya sejak Musyawarah
Nasional FPI III pada 2013 lalu. Sementara itu, pimpinan FPI sekarang
dijabat K.H. Ahmad Shabri Lubis, dibantu K.H. Jafar Shidiq selaku Wakil
Ketua Umum. Rizieq sendiri saat ini lebih banyak berada di Bogor untuk
mengurus Pesantren Agrokultural Markaz Syariah Mega Mendung yang
didirikannya beberapa tahun terakhir ini.

Reformasi 1998 dan Pam Swakarsa
FPI adalah
salah satu organisasi muslim yang hadir dengan memanfaatkan ruang gerak
politik yang lebih luas setelah keruntuhan rezim Orde Baru Soeharto.
Secara umum, setelah Reformasi 1998, Indonesia diwarnai maraknya
perkembangan berbagai partai, lembaga swadaya masyarakat, organisasi
massa, dan lain sebagainya. FPI adalah salah satu kelompok yang turut
menunggangi gelombang demokratisasi ini.
Dalam dokumen Risalah Historis dan Garis Perjuangan FPI, disebutkan
tujuan awal pembentukan FPI adalah sebagai berikut: (1) adanya
penderitaan panjang yang dialami umat Islam Indonesia akibat adanya
pelanggaran HAM yang dilakukan oleh oknum penguasa, (2) adanya kewajiban
bagi setiap muslim untuk menjaga dan mempertahankan harkat dan martabat
Islam serta umat Islam, serta (3) adanya kewajiban bagi setiap muslim
untuk dapat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Di sisi lain, riset yang dilakukan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dalam buku Premanisme Politik
(2000) mengungkapkan pembentukan FPI tak dapat dilepaskan dari tiga
peristiwa: Kerusuhan Ketapang, Sidang Istimewa MPR, dan pembentukan
organ paramiliter Pengamanan (Pam) Swakarsa. Ketiga peristiwa ini
merupakan lanjutan gelombang demonstrasi Reformasi 1998 yang bergulir
sejak Mei 1998.
Studi ISAI menyebut Kerusuhan Ketapang pada
November 1998 merupakan debut FPI di Indonesia. Bentrokan di Ketapang
diawali intimidasi puluhan preman asal Ambon yang diduga membekingi
perjudian di sekitar wilayah Ketapang, Jakarta Pusat. Warga Ketapang
yang berang dengan perilaku arogan tersebut langsung memburu para preman
tersebut bahkan membunuh beberapa orang.
Rizieq Shihab sendiri
sempat hadir saat kerusuhan berlangsung untuk menenangkan massa.
Beberapa saat sebelumnya, ia sempat berceramah di salah satu masjid di
dekat lokasi, namun acara itu berlangsung aman. Dalam kerusuhan itu,
sejumlah anggota FPI turut berada di tengah-tengah massa.
ISAI
mencatat FPI juga turut aktif terlibat dalam penggalangan Pam Swakarsa
menjelang Sidang Istimewa 10-13 November 1998 yang melantik B.J Habibie
sebagai presiden; mengamankan Sidang Umum MPR pada Oktober 1999; serta
membantu aparat membendung demonstrasi mahasiswa yang menolak RUU
Penanggulangan Keadaan Bahaya. Saat itu, FPI masih bernaung dalam Pam
Swakarsa, sebuah organ paramiliter yang dibentuk militer untuk
membendung aksi demonstrasi mahasiswa.
Momentum yang menjadi
ajang unjuk kekuatan pertama FPI terjadi pada pertengahan Desember 1999.
Saat itu, ribuan anggota FPI datang menggeruduk Balai Kota DKI Jakarta
untuk menemui Gubernur Sutiyoso. Tuntutan mereka tegas: Sutiyoso harus
menutup semua tempat "maksiat" seperti kelab malam, panti pijat, bar,
dan diskotek, selama bulan puasa.
Peristiwa penggrudukan FPI
sukses membuat Sutiyoso meninjau ulang kebijakan jam operasi
tempat-tempat “maksiat” tersebut. Dalam aksi ini, kelompok pimpinan
Rizieq telah resmi memanggul nama FPI, lengkap dengan atribut jubah
putih, menggunakan ikat kepala atau sorban putih, berselempang kain
hijau, dan beberapa di antaranya membawa pentungan atau kayu. Sebuah
citra yang hingga saat ini melekat kuat dalam benak masyarakat.
Kedekatan dengan Berbagai Tokoh Politik
FPI
kerapkali dituding sebagai kelompok yang mendapatkan perlindungan
politik dari beberapa tokoh terkemuka atau bahkan dari aparat keamanan.
Kecurigaan ini seringkali muncul karena FPI seakan-akan kebal dari hukum
atas aksi-aksi main hakim sendiri yang pernah mereka lakukan.
Terkait hal ini, Taufik Adnan Amal dan Samsu Rizal Panggabean dalam Politik Syari’at Islam: Dari Indonesia ke Nigeria (2004)
mencatat FPI dinilai dekat dengan orang-orang di sekitar Soeharto,
khususnya Prabowo Subianto yang merupakan menantunya sekaligus seorang
perwira tinggi militer pada tahun 1998. Setelah Prabowo diberhentikan
dari TNI terkait penculikan aktivis, FPI mengalihkan dukungannya kepada
Jenderal Wiranto.
Dukungan FPI terhadap Wiranto terlihat dalam
aksi ratusan milisi FPI ketika menyatroni kantor Komnas HAM untuk
memprotes pemeriksaan terhadap Jenderal Wiranto dalam kasus Mei 1998.
Sementara kedekatan dengan ABRI/TNI terlihat dalam aksi demonstrasi
tandingan yang dilakukan FPI melawan mahasiswa penentang RUU Keadaan
Darurat/RUU PKB yang diajukan Mabes TNI kepada DPR pada tanggal 24
Oktober 1999.
Beberapa tokoh yang diduga turut memberikan
dukungannya terhadap FPI adalah Kapolda Metro Jaya tahun 1998-1999
Mayjen (Pol) Nugroho Djayoesman dan Pangdam Jaya (selanjutnya diangkat
menjadi Pangkostrad) Mayjen TNI Djaja Suparman. Riset ISAI mencatat FPI
sempat mendatangi Polda Metro Jaya untuk meminta aparat Polda tidak ragu
memberantas narkoba.
FPI juga kerap mengadakan pertemuan
informal dengan para petinggi militer, seperti yang pernah dilakukan
dengan Mayjen Djaja Suparman di Hotel Milenium Jakarta, menjelang
pelaksanaan Sidang Umum MPR 1999. Para petinggi militer dan kepolisian,
khususnya di tingkat Daerah Khusus Ibukota Jakarta, beberapa kali
menghadiri apel siaga yang dilakukan FPI maupun ormas-ormas lain yang
menyandang nama “PAM Swakarsa”.
Dukungan-dukungan kepada
kubu-kubu tertentu yang memiliki pengaruh politik merupakan salah satu
metode yang digunakan FPI untuk masuk ke dalam politik praktis. Meskipun
FPI atau tokoh-tokohnya tidak terjun langsung menjadi politikus, namun
kedekatan dengan aktor-aktor politik sangat berguna khususnya untuk
melindungi sepak-terjang FPI yang seringkali melanggar hukum.
Contoh
dukungan FPI kepada aktor-aktor politik terlihat saat FPI masuk ke
dalam unsur-unsur milisi sipil yang dimobilisasi untuk mendukung
presiden B.J Habibie menjelang Sidang Umum MPR pada tanggal 14-21
Oktober 1999.
Dalam peristiwa ini, FPI bergabung dengan
ormas-ormas Islam seperti KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas
Dunia Islam), Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), Gerakan Pemuda Islam (GPI)
dan lain sebagainya untuk mendukung presiden B.J. Habibie yang dianggap
memiliki kesamaan ideologis dengan mereka.
Dukungan FPI terhadap
figur politik nasional juga ditunjukkan saat pemilu 2004. Saat itu FPI
kembali mendukung Wiranto sebagai calon presiden bahkan mengirimkan
dai-dai ke daerah-daerah untuk mendiskreditkan Susilo Bambang
Yudhoyono sebagai pesaing terberat Wiranto.
Wiranto kala itu
memang tak berhasil menang melawan Yudhoyono, tapi FPI sendiri terus
berkembang. Mereka mampu menjadi amplifier isu sekaligus mengerahkan
massa. Termasuk pada hari ini, 4 November 2016 ini.
(sumber : https://tirto.id/fpi-dalam-lintasan-sejarah-b1NT )
👏👏👏👏 daebak (keren)
BalasHapusCopas google anjer
BalasHapusKeren 👍
BalasHapusKeren 👍
BalasHapus👍👍👍
BalasHapusAjibb 👍
BalasHapusKeren waa..
BalasHapuskeren
BalasHapusKeren
BalasHapusKeren
BalasHapuskeren
BalasHapusKeren
BalasHapusKeren
BalasHapus